Belajar Filosofi Hidup Orang Jawa dari Nasi Tumpeng

January 13, 2021 0 By imgfire.info

Tumpeng ataupun biasa kita tahu dengan istilah buceng merupakan olahan nasi yang berupa kerucut menyamai gunung lengkap dengan lauk pauk di sekelilingnya. Dalam budaya Jawa, tumpeng ataupun buceng biasa kita temui bagaikan sesaji( sajian utama) dalam acara- acara syukuran, kenduri, selamatan maupun upacara- upacara adat tertentu semacam peringatan 1 Muharam ataupun Satu Suro.

Penyajiannya juga bermacam- macam. Nasi yang digunakan dapat memakai nasi putih biasa, nasi gurih, ketan maupun nasi kuning. Secara universal, sajian nasi tumpeng diidentikkan dengan olahan nasi kuning berupa kerucut dengan nasi putih di atasnya dan disajikan di atas tampah( wadah bulat tradisional dari anyaman bambu) serta dialasi daun pisang Pesan Nasi Tumpeng .

Dilansir dari tandapagar. com, bersumber pada sejarah asalnya, nasi tumpeng terbuat buat memuliakan gunung bagaikan tempat bersemayam para hyang ataupun arwah leluhur( nenek moyang). Keyakinan ini beralih dikala warga dipengaruhi budaya Hindu. Nasi tumpeng terbuat kerucut buat meniru wujud gunung suci Mahameru, tempat bersemayam dewa- dewi.

Pada dikala Islam masuk ke Nusantara, budaya nasi tumpeng ini setelah itu diadopsi serta berhubungan dengan filosofi Islam Jawa. Tumpeng ialah akronim dalam bahasa Jawa, ialah“ yen metu kudu sing mempeng”( jika keluar wajib serius). Sebaliknya buceng sendiri ialah singkatan dari“ nyebuto sing kenceng”( aktif berdoa serta ingat kepada Yang Maha Kuasa).

Bagi cerita dari para sesepuh, tumpeng serta buceng ialah sesaji dalam tradisi orang Jawa yang penuh dengan isi nilai moral serta filosofi hidup. Pada tiap bagian dari piranti- pirantinya, tumpeng serta buceng mempunyai arti bagaikan perwujudan rasa syukur serta ungkapan terima kasih kepada si pencipta. Bila dijabarkan satu per satu! sajian tumpeng sendiri mempunyai kajian arti yang sangat mendalam, yang menampilkan betapa tingginya tradisi peradaban nenek moyang kita dalam mengidentifikasi Tuhannya.

Bagi idntimes. com nasi tumpeng disajikan dengan 7 berbagai lauk pauk. Angka 7 ataupun dalam bahasa Jawa berarti pitu serta dimaknai bagaikan pitulungan( pertolongan).

1. Nasi yang diberbentuk kerucut dimaknai bagaikan simbol buat senantiasa berserah diri kepada Tuhan dan menyimpan harapan supaya selau hidup sejahtera. Tidak hanya arti dibalik akronim buceng serta tumpeng, wujud kerucut serta nasi kuning dengan nasi putih dibagian atasnya. Corak kuning melambakan rasa wening( kekhusyukan) sebaliknya corak putih hati yang putih bersih dalam berdoa.

2. Ayam Ingkung

Ayam, dimasak utuh ingkung dengan bumbu kuning/ kunir serta diberi areh( kaldu santan yang kental) yang jadi simbol menyembah Tuhan dengan khusuk( manekung) dengan hati yang tenang( wening). Di mana ketenangan hati dicapai dengan mengatur diri serta tabah( nge” reh” rasa).

Dalam penyembelihannya, pemilihan ayam jago pula memiliki arti menjauhi sifat- sifat kurang baik ayam jago, antara lain: sombong, congkak, jika berdialog senantiasa menyela serta merasa ketahui/ menang/ benar sendiri( berkokok), tidak setia serta tidak atensi kepada anak istri.

3. Ikan Lele

Era dulu ikan yang disajikan Ikan Lele. Ikan lele mempunyai arti ketabahan, keuletan dalam hidup serta mampu hidup dalam suasana ekonomi yang sangat dasar sekalipun. Kepribadian ikan lele sendiri merupakan tahan hidup di air yang tidak mengalir serta di dasar sungai.

4. Ikan Teri

Ikan Teri biasanya digoreng dengan tepung ataupun tanpa tepung. Ikan Teri serta Ikan Pethek hidup di laut serta senantiasa bergerombol sehingga berikan arti kebersamaan serta kerukunan.

Ikan ini jadi simbol dari ketabahan, keuletan dalam hidup serta mampu hidup dalam suasana ekonomi yang sangat dasar sekalipun. Lauk lain yang disajikan merupakan ikan teri. Ikan ini umumnya digoreng dengan ataupun tanpa tepung. Ikan teri senantiasa hidup bergerombol. Filosofi yang bisa diambil, bagaikan contoh dari kebersamaan serta kerukunan.

5. Telur Rebus

Nasi tumpeng dilengkapi dengan telur rebus utuh. Telur direbus pindang, bukan didadar ataupun mata sapi, serta disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong sehingga buat memakannya wajib dikupas terlebih dulu.

Piwulang jawa mengarahkan“ Tata, Titi, Titis serta Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik merupakan kerja yang terencana, cermat, pas perhitungan, serta dituntaskan dengan tuntas.

Telur pula jadi simbol bila manusia diciptakan dengan fitrah yang sama. Yang membedakan nantinya cumalah ketakwaan serta tingkah lakunya.

Baca Juga : Catatan Kode Paket Internet Telkomsel Murah Terbaru

6. Sayur Urap

Aksesoris yang lain merupakan sayur urap. Sayur- mayur yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa ataupun urap serta lain- lain. Semacam halnya aksesoris yang lain, sayur- mayur ini pula memiliki simbol- simbol berarti, antara lain:

– Kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung,

– Bayam( bayem) berarti ayem tentrem,

– Taoge/ cambah yang berarti berkembang,

– Kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan,

– Bawang merah melambangkan memikirkan seluruh suatu dengan matang baik buruknya,

– Cabe merah diujung tumpeng ialah symbol dilah/ api yang meberikan penerangan/ tauladan yang berguna untuk orang lain,

– Kluwih berarti linuwih ataupun memiliki kelebihan dibandingkan yang lain, dan

– Bumbu urap berarti urip/ hidup ataupun sanggup menghidupi( menafkahi) keluarga.

7. Sambal Goreng

Sambel Goreng umumnya dibuat dari ketahui, kentang serta tempe serta Sambel goreng tumis dengan bumbu. Bahan- bahan yang dirajang jadi potongan- potongan

kecil bermakna gotong royong serta guyup rukun dalam bermasyarakat.